LIPI: Curah Hujan Ekstrem dan Banjir Awal Tahun 2020 di Jabodetabek

Cibinong Humas LIPI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian Limnologi LIPI fenomena banjir yang terjadi di Jabodetabek pada awal tahun 2020. Muhammad Fakhrudin, M.Sc dan Dr. Apip,  Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI menjelaskan banjir besar yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh  curah hujan ekstrem dan merata di hilir serta akibat propagasi aliran banjir dari wilayah hulu yang mempunyai intensitas hujan lebat.  Hal ini diutarakan  pada  kunjungan RTV di Gedung Asia Pacific Centre for Ecohydrology (APCE) di Cibinong Science Center – Botanical Garden pada 8 Januari 2020.  

Fakhrudin menyatakan data tinggi muka air sungai dari beberapa stasiun pengukuran yang ada di Jakarta dan Sungai Ciliwung, pada 1 Januari 2020, di Stasiun Karet dan Jembatan Merah  pukul 04.00 ketinggian  air siaga 1,  saat itu di Stasiun Katulampa pada pukul 08.00 masih siaga 2. Dua jam kemudian di Stasiun Depok siaga 1 pada pukul  10.00 WIB, 13 jam berikutnya di Stasiun Manggarai tetap pada siaga 1 dan mengalami waktu puncak banjir kedua akibat kontribusi aliran dari wilayah hulu.  Pada 1 Januari siang, ketinggian air di Jakarta sudah mulai turun, tetapi kemudian datang kiriman massa air dari daerah hulu sehingga ketinggian air naik kembali,  jelas Fakhrudin.

Fakhrudin mengutarakan selain curah hujan yang tinggi  adanya faktor pasang surut air laut dan  desain drainase di Jakarta yang didesain untuk menampung beban aliran permukaan akibat curah hujan dengan periode ulang dibawah 50 tahun sedangkan banjir jakarta pada awal tahun 2020 disebabkan curah hujan yang identik dengan periode ulang kejadian per 1000 tahun.  Sehingga sistem drainase yang ada saat ini dapat dipastikan tidak mampu berfungsi dengan baik. Hal ini  harus direview kembali secara akurat dari sisi kapasitas dan integrasi drainase lokal dengan drainase makro dari sungai-sungai. Sistem pompa dan kapasitasnya   harus ditingkatkan karena intensitas hujan sudah berubah dampak perubahan iklim yang meningkatkan intensitas hujan, jelas Fakhrudin.

Fakhrudin menambahkan  “Sebaiknya peralatan-peralatan untuk mengukur curah hujan harus diperbanyak, dan dapat  diakses oleh   masyarakat luas”.  Sehingga peneliti dan perguruan tinggi dapat melakukan analisis, bertemu dalam forum diskusi dengan data yang akurat, dan mendapatkan kajian yang komprehensif ungkap  Fakhrudin. (IkS/edKS,yov)