UNIT PELAKSANA TEKNIS LOKA ALIH TEKNOLOGI PENYEHATAN DANAU DI DANAU MANINJAU


Danau Maninjau merupakan danau volcano tektonik, sebuah kaldera runtuhan, yang terbentuk oleh letusan besar. Letusan tersebut menghamburkan 220-250 km 3 material piroklastika dan tersebar hingga lebih dari 75 km jauhnya dari pusat letusan. Proses geomorfologi, iklim, pembentukan hutan primer, proses perairan darat serta intervensi jasad renik yang tak tampak, menghasilkan lanskap serta warisan tak ternilai berupa sumber daya alam dan panorama yang kita nikmati sekarang. Danau tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat terutama sebagai pembangkit tenaga listrik dan mata pencaharian masyarakat dalam mencari maupun budidaya ikan di dalam karamba jaring apung (KJA).

Sejalan dengan semakin kompleknya permasalahan yang terjadi di Danau Maninjau,  maka Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Puslit Limnologi-LIPI telah menginisiasi berdirinya stasiun pengamatan pada tahun 2001-2002. Stasiun pengamatan yang telah didirikan diberikan nama Stasiun Limnologi dan Alih Teknologi LIPI atau yang disingkat sebagai SLAT-LIPI di Nagari Bayur Kecamatan Tanjung Raya di Maninjau. Peran SLAT-LIPI lebih difokuskan untuk mendukung sarana penelitian dan pemberdayaan masyarakat di selingkar Danau Maninjau. Pada  tahun 2016 berdasarkan Perka LIPI No 2 terjadi peningkatan status menjadi UPT Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau/LATPD-LIPI yang memiliki tugas dan fungsi antara lain: melaksanakan pengembangan dan alih teknologi penyehatan danau, monitoring kualitas perairan danau, pelaksanaan jasa dan informasi, dan pelaksanaan kegiatan administrasi. Cakupan wilayah pengembangan teknologi penyehatan danau semakin diperluas yang tidak hanya Danau Maninjau saja, namun semua danau-danau di Indonesia. 

Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau memiliki visi dan misi guna membantu mengatasi permasalahan yang terjadi pada ekosistem danau. Visi dari Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau adalah “Mewujudkan Danau Tropis Indonesia yang Sehat, Asri, dan Lestari dalam Dinamika  Pembangunan”. Sedangkan misi dari Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau secara umum terdiri dari enam tujuan yaitu:

1.     Mengembangkan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur yang ada untuk kegiatan alih teknologi penyehatan danau

2.     Mengedukasi masyarakat, pelajar, mahasiswa, maupun pemanfaat danau tentang pemahaman danau yang sehat, asri, dan lestari.

3.     Melakukan pemilihan, penerapan, dan alih teknologi yang sesuai dengan karakteristik danau dan permasalahannya.

4.     Melakukan inventarisasi permasalahan yang berkaitan dengan teknologi penyehatan danau untuk pengembangan penelitian di satker induk.

5.     Memberikan pelayanan konsultasi tentang pemanfaatan dan pemulihan kesehatan danau

6.     Melakukan upaya penyadaran kepada stakeholders tentang pentingnya peranan danau dalam kehidupan

Aspek pengembangan teknologi penyehatan danau di Indonesia guna memperbaiki ekosistem danau di indonesia memerlukan kegiatan restorasi yang bersifat in-situ (di tempat) maupun secara eks-situ (diluar). Kegiatan restorasi secara in-situ lebih ditujukan untuk memperbaiki kualitas perairan danau maupun untuk konservasi biota akuatik yang terkandung di dalamnya. Perbaikan kualitas air danau dilakukan dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan misalnya dengan lahan basah buatan maupun teknologi lainnya yang sesuai dengan kondisi ecoregion setempat. Aplikasi teknologi untuk memperbaiki kualitas air secara eks-situ dapat dilakukan dengan menggunakan lahan basah buatan yang ada di badan sungai sebelum masuk kedalam danau.

Kegiatan konservasi danau secara in-situ sementara ini lebih difokuskan pada perlindungan biota asli danau atau endemik maupun habitatnya guna terjaga kelestariaanya sejalan dengan pembangunan yang terjadi di sekitar danau. Dalam mengkonservasi biota akuatik yang terkandung di dalam danau perlu dibuat zonasi konservasi perikanan yang didasarkan pada lokasi dimana biota tersebut memijah, preferensi/pemilihan karakteristik habitat, maupun parameter lainnya yang mendukung biota asli danau untuk tumbuh dan berkembang secara alami. Tujuan dari konservasi in-situ ini adalah untuk menjaga stabilitas produksi perikanan tangkap dalam danau.

            Konservasi ikan asli danau juga dilakukan secara ek-situ yaitu melalui teknologi budidaya dalam kolam semen atau tanah. Sementara ini kolam yang digunakan untuk bididaya merupakan milik LATPD–LIPI guna menngembangkan ikan-ikan asli danau seperti: Bada, Asang, Rinua, dan  Supareh. Ke depannnya budidaya ikan lokal ini akan dikembangkan di kolam milik penduduk melalui kegitan pembinaan usaha kecil dan menengah (UKM) di masyarakat. Tujuan akhir dari budidaya ikan asli danau ini secara eks-situ ini adalah untuk mengurangi ketergantungan eksploitasi ikan tersebut dari dalam alam dan mengembalikan keberadaan ikan yang mulai punah melalui kegiatan restoking (pelepasan ikan kembali ke danau).

            Kegitan deseminasi hasil alih teknologi penyehatan danau juga menjadi fokus kegiatan yang akan dan sedang dilaksanakan di LATPD. Diseminasi pada masyarakat ini memiliki arti yang sangat penting dalam meningkatkan pemahaman tentang pelestarian ekosistem danau sebagai warisan maupun arti penting bagi kehidupan. Disamping itu kegiatan diseminasi ini dilakukan guna menyebarkan pengetahuan tentang teknologi yang telah dihasilkan oleh loka dalam melakukan restorasi maupun konservasi danau guna mendukung kegiatan aktivitas perikanan maupun pariwisata. (YLI)