Peran Riset Aplikatif Limnologi dan Sumber Daya Air untuk Pembangunan Infrastruktur


Cibinong – Humas BRIN. Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA),  Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Webinar Mingguan, dengan tema “Peran Riset Aplikatif  Limnologi dan Sumber Daya Air untuk Pembangunan Infrastruktur”, pada Kamis  (9/6).

Kepala PR LSDA – BRIN, Dr. Hidayat, M.Sc. dalam sambutannya menyatakan bahwa dengan  penyelenggaraan webinar untuk dapat saling berinteraksi yang sebelumnya hanya sisi limnologi, kemudian sekarang sisi sumberdaya air.“Penyelenggaraan webinar ini diharapkan dapat melihat kegiatan kelompok riset kita dengan yang lain serta dapat saling berkolaborasi,” jelasnya.

Wiwiek Dwi Susanti, Peneliti PR LSDA - BRIN selaku Koordinator Kelompok Riset Infrastruktur Sumber Daya Air, mengungkapkan  bahwa lingkup kegiatan kelompok riset  infrastruktur ada tiga yaitu pertama, mendukung ketahanan air dengan lima aspek antara lain ketahanan air  ekonomi,  rumah tangga, perkotaan lingkungan, terhadap kebencanaan. Kedua, mendukung pendayagunaan sumber daya alam. Ketiga, mengendalikan daya rusak air,” ungkapnya.

Lebih lanjut Wiwiek menerangkan bahwa Hidrologi memiliki tiga aspek yaitu pertama sedimentasi (pola, laju sedimentasi) untuk kapasitas tampungan mati. Kedua, Low Flow and Water Balance untuk debit andalan, pola tanam irigasi, water balance, kapasitas tampungan efektif dan elevasi crest spilliy, max ol waduk. Ketiga, High Flow and Food  digunakan untuk kapasitas tampungan banjir, elokasi puncak gunung. Ini salah satu contoh aplikasi untuk mengetahui kapasitas waduk.

Wiwiek juga menyampaikan bahwa, presentasi di webinar kali ini peran PR LSDA yang penting Hydro Elektrik Power Plant (HEEP) yaitu PLTA merupakan sebuah bangunan yang berfungsi untuk menghasilkan tenaga listrik yang dibangkitkan oleh air. Tenaga yang dihasilkan yaitu tinggi jatuh (head)  dan debit (volume per satuan waktu).

Dirinya juga menjelaskan bahwa “skala pembangkit dibagi menjadi dua yaitu pertama, berdasarkan kapasitas terpasangnya adalah PLTA besar :> 50 MW, PLTA Kecil 10-50 MW, PLTM (minihidro) : 500 kW -10 MW, PLTMH (mikrohidro) : < 500 kW dan PLTPH (pikohidro) : < 100 kW.  Kedua, berdasarkan tinggi jatuhnya  yaitu Tinggi : ? 100 m, sedang : 30-100 m, rendah : < 300 m,” rinci Wiwiek.

Wiwiek menjelaskan pula peran PR LSDA untuk air baku di Danau Karu Pulo Obi agak unik dimana danau karu tidak ditemukan inlet atau outlet diseluruh permukaan danau. Danau karu merupakan danau tampungan (danau mati) dengan daerah tangkapan danau yang cukup luas yaitu sebesar 65.61 km2, namun pada kenyataannya tidak ditemukan alur sungai yang nyata baik masuk (inflow) yang mengalir dari hulu maupun keluar (outflow) menuju laut.

“Melihat beberapa perilaku muka air danau bahwa danau tersebut tidak pernah mengalami muka air  yang signifikan terlihat batas air yang ada, maka ada kemungkinan air yang berasal dari hulu  daerah tangkapan air (DTA), tidak sepenuhnya masuk ke danau dan juga dimungkinkan terdapat bocoran-bocoran di tampungan danau maupun di daerah tangkapan air (DTA). Melihat kondisi yang ada akan riskan jika menggunakan danau sebagai sumber air baku smelter karena kondisi yang tidak stabil menyebabkan permukaan air danau penurunan secara drastis,” jelasnya

Wiwiek juga mengatakan bahwa peran PR LSDA terhadap peil banjir dan penanggulangan banjir sangat penting. Peil banjir ini merupakan salah satu persyaratan untuk pengajuan sebuah izin mendirikan bangunan (IMB). Peil banjir disyaratkan untuk dikaji apakah akan  terjadi banjir sebuah kawasan atau menyebabkan banjir dilingkungan. Ini harus di kaji kondisi biologinya contohnya rencana pembukaan kawasan Kalimas, Bekasi Timur.

Diakhir webinar, Wiwiek mengungkapkan bahwa riset (dasar dan terapan ) tentang sumberdaya alam merupakan isu strategis, peran dan peluang sangat besar untuk pengembangan ( khususnya riset terapan) dan perlu kolaborasi internal dan eksternal sehingga hasil riset dapat langsung dirasakan manfaatnya. (shf/ ed.sl)