Kajian Biogeokimia Singkap Karakteristik Spesifik Danau-danau Tropis

 

Cibinong – Humas BRIN. Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA), Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Webinar Mingguan, dengan tema “Kajian Biogeokimia dalam Menyingkap Karakteristik Spesifik Danau-danau Tropis”, pada Jum’at (3/6).

Kepala PR LSDA – BRIN, Dr. Hidayat, M.Sc. dalam sambutannya menyatakan bahwa penyelenggaraan webinar ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung penguatan iklim riset, akumulasi pengetahuan, dan sebagai media untuk saling bertukar informasi antar periset baik di internal maupun eksternal Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air serta dilakukan secara berkala.

“Penyelenggaraan webinar dengan tema ini secara terbuka untuk umum diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan arti pentingnya riset terkait danau sebagai dasar untuk pengelolaan secara berkelanjutan dan juga diharapkan menjadi sarana untuk membuka peluang kolaborasi bagi mitra, baik internal maupun eksternal BRIN,” jelas Hidayat.

Sulung Nomosatryo, M.Si., Peneliti PR LSDA - BRIN dari Kelompok Riset Dinamika Proses Ekosistem Perairan Darat, selaku pembicara menyatakan bahwa webinar kali ini sebenarnya adalah presentasi dari hasil-hasil kolaborasi penelitian antara Puslit Limnologi - LIPI dan Prof. D. Haffner (Windsor University, Windsor, Canada) yang kemuadian dilanjutkan oleh Dr. Sean Crowe (Mantan mahasiswa Prof Haffner  dari University of British Columbia (UBC), Vancouver, Canada).  


“Webinar kali ini juga adalah  momentum yang sangat baik bagi kelompok penelitian dinamika proses perairan darat guna menyampaikan pesan betapa pentingnya kajian biogeokimia yang komprehensif  dalam mengkarakteristik danau-danau di Indonesia,” ujar Sulung.

Lebih lanjut Sulung menerangkan bahwa limnologi adalah bidang ilmu yang mempelajari keterkaitan antara biotik dan abiotik di sistem perairan darat. Keterkaitan tersebut tidak dapat dihindari ketika kita berbicara mengenai suatu siklus di sistem  perairan ini.

“Siklus elemen-elemen penting (essential elements) tersebut terdiri dari siklus Karbon (C), Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Sulfur (S) serta makro element lainnya seperti Si, Fe dan Mn. Untuk melihat suatu siklus dari suatu elemen, tidak cukup hanya menentukan berapa besar konsentrasi atau kelimpahan dari suatu elemen atau organisme tetapi perlu juga diperhatikan peranan parameter-parameter lain dan kondisi lingkungan yang akan turut mempengaruhi perpindahan atau perubahan elemen-elemen tersebut,” rinci Sulung.

“Oleh karena itu, kajian mengenai biogeokimia khususnya di sistem perairan (Aquatic Biogeochemistry) sangat diperlukan sekali untuk mempelajari bagaimana siklus elemen-elemen essential tersebut berlangsung baik di kolom air, sedimen maupun di pore water,” sambung Sulung.

“Spektrum habitat dari kajian ini pun luas dari danau, wetland sampai muara. Untuk mengungkap proses-proses biogeokimia di danau, tentunya tidak terlepas dari masukan elemen-elemen dari catchment areanya dan sungai-sungai yang masuk. Kajian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran langsung, monitoring dan eksperimental di lokasi maupun di laboratorium guna mengungkap karakteristik spesifik biogeokimia di habitat tersebut,” imbuh Sulung.

Sulung juga menyampaikan bahwa, presentasi di webinar kali ini dimaksudkan  dapat memberi gambaran state-of-the-art mengenai penelitian biogeokimia yang komprehensif dan saling terkait untuk mengungkap salah satu siklus yang sangat penting di salah satu danau tektonik di Indonesia. Sebagai studi kasus yaitu penelitian di  Danau Matano, karena kajian biogeokimia yang telah dilakukan di Danau Matano dapat  menerangkan bagaiman kajian ini  dimulai dan dilakukan guna mengungkap karakteristik spesifik peranan elemen Fe dalam mengontrol proses biogeokimia di Danau Matano dimana karaktersitik spesifik ini digunakan untuk mendapatkan konsensus bahwa Danau Matano dapat dijadikan sebagai analogi lautan di zaman precambian.  

“Tetapi yang terpenting dari itu semua, presentasi kali ini diharapkan dapat menjadi pemicu untuk melakukan penelitian biogeokimia di danau lainnya di Indonesia untuk mendapatkan karakteristik spesifiknya. Mengingat menurut buku Identifikasi Danau Indonesia (Puslit Limnologi, 2020), Indonesia memiliki 5807 danau yang pastinya mempunyai karakteristik yang unik dan berbeda. Selain itu,  memperkenalkan kelompok riset (kelris)  dinamika proses peraiaran darat dan sekaligus membuka peluang kerja sama antar kelris dan instansi baik dalam maupun luarnegeri,” sambung Sulung dalam presentasinya,” ungkap Sulung.

Harapan dari webinar ini adalah pengungkapan secara saintifik karakteristik spesifik di suatu ekosistem perairan darat diharapkan dapat menjadi khasanah yang tak ternilai dari keanekaragaman sumberdaya alam di Indonesia.Walaupun penelitan ini adalah termasuk penelitian dasar, tetapi dapat  berguna bagi pengambil kebijakan dalam mengelola danau secara holistik.

“Pengadaan alat lapangan dan alat pengukuran yang mumpuni sangat diperlukan untuk mendapatkan sampel dan data yang diinginkan. Diadakan slot dana khusus untuk penelitian-penelitian seperti ini, mengingat, dana yang dibutuhkan relatif besar,“ pungkas Sulung sambil menutup paparan. (thp/ ed.sl)