Green Infrastructure dalam Tata Kelola Ekosistem DAS

 

Cibinong – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air menyelenggarakan Webinar Mingguan, pada Kamis (19/5).  Webinar mengambil tema “Green Infrastructure dalam Tata Kelola Ekosistem DAS” dengan narasumber Atiqotun Fitriyah, M.Agr, Ph.D., Periset Kelompok Riset Hidrologi dan Optimasi Tata Kelola Sistem Perairan Darat dan dimoderatori oleh Dr. Apip, M.Eng., Koordinator Kelompok Riset yang sama dengan narasumber.

Webinar yang digelar melalui platform zoom dibuka oleh Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Dr. Hidayat, M.Sc. “Diharapkan kegiatan webinar ini akan berlanjut setiap minggu pada 11 kelompok riset yang ada di Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air yaitu Dinamika Proses Perairan Darat, Pengelolaan Biota, Dinamika Pencemaran, Ekotoksikologi dan Ekoremediasi Perairan Darat, Hidrologi dan Optimasi Tata Kelola Sistem Perairan Darat, Mitigasi dan Adaptasi Bencana Keairan, Ketahanan Air, Interaksi Air Tanah, Infrastruktur Sumber Daya Air, Air Minum dan Sanitasi, Pemanfaatan SDAir Melalui Modifikasi Cuaca, Pengelolaan SDAir Pertanian,” rinci Hidayat.  

Atiq yang sekarang sedang melaksanakan Post-Doctoral di Tokyo University of Agriculture and Technology menjelaskan dalam paparannya tentang green infrastructure yang menurut European Union adalah jaringan yang terhubung antara natural dan semi natural area yang dihubungkan secara strategis untuk mendeliver banyak ecosystem services.  

“Pada awalnya green infrastructure diimplementasikan untuk urban area tetapi dalam perkembangannya sudah meluas ke sub-urban area,” jelas Atiq.

Dirinya mengungkapkan pentingnya green infrastructure karena jumlah populasi di dunia khususnya Indonesia yang selalu bertambah sedangkan lahan yang tersedia terbatas, adanya efek samping pembangunan yang kurang atau tidak baik terhadap lingkungan, meningkatkan resiliensi, memperkaya biodiversitas, mengurangi ketergantungan terhadap grey infrastructure.

 Areal Persawahan sebagai Green Infrastructure

Atiq menyampaikan sawah merupakan salah satu sub unit dalam daerah tangkapan air yang penyebarannya dominan di kawasan Asia, keberadaan sawah juga sangat berpengaruh pada siklus air dalam DAS. “Sawah mempunyai banyak fungsi, bukan hanya memproduksi beras tetapi juga memliki fungsi provisioning, regulating, dan cultural,” paparnya.

Peranan sawah dalam mitigasi banjir (Eco-DRR) baru dimulai di Jepang sejak tahun 2002 dengan pengenalan konsep “Paddy Field Dam”(PFD). PFD dapat menurunkan debit puncak runoff sekitar 26-47% sehingga dapat menurunkan resiko dampak banjir.

“Sejak 2002 penerapan PFD semakin meluas di prefektur Niigata, dan mulai dikenalkan di prefektur lain seperti di Tottori, Hyogo, Miyagi hingga Hokaido,” ujar Atiq.

Tantangan penerapan PFD di Indonesia adalah jadwal tanam padi di Indonesia lebih bervariasi dibandingkan Jepang, padi ditanam sepanjang tahun, perencanaan Eco-DRR lebih rumit dan perlu pertimbangan yang kompleks serta pelaksanaan penelitian akan dilaksanakan dalam tiga bagian, yaitu karakterisasi daerah studi, percobaan lapangan dan simulasi, analisis performa mitigasi dari sawah sebagai GI dan perencanaan Eco-DRR skala DAS.

Lebih lanjut Atiq menjelaskan mengenai studi awalnya di Indonesia mengenai karakterisasi daerah studi: frekuensi penggenangan di DAS yang masih meliputi aplikasi remote sensing dalam pemetaan spasial sawah karena kendala saat pandemi.

Atiq memilih daerah penelitian DAS Bengawan Solo yang persebaran sawahnya masih tinggi. “Saya memilih bengawan solo karena memiliki sawah tambak yang kedalaman airnya lebih tinggi daripada sawah pada umumnya,” jelasnya.

Peranan Sawah Dalam Meningkatkan Kualitas Air

Studi kasus  riset Atiq dilaksanakan di Chiba, Jepang tepatnya di Danau Inbanuma karena kandungan COD, Total Phosporus dan Total Nitrogen di danau ini sudah melebihi ambang batas untuk standar lingkungan, yang mengakibatkan menurunnya kualitas dan kuantitas tangkapan ikan untuk para nelayan, salah satu penanganannya adalah diterapkannya Cyclic Irrigation.

“Tujuan risetnya adalah untuk memonitor dan mengevaluasi kerja sistem apakah sesuai target awal, tujuan akhirnya ingin mengetahui efisiensi kinerja pompa dan penyesuaian operasi pompa ke depan,” papar Atiq.

Atiq menyimpulkan untuk menutup paparannya yaitu pertama, pemanfaatan green infrastructure (khususnya area sawah) dalam pengendalian banjir dan lainnya sangat berpotensi dikembangkan di Indonesia mengingat luasnya lahan sawah dan potensi bencana banjir yang masih tinggi.

Kedua,  studi mengenai green infrastructure sebaiknya dilaksanakan dengan peneliti lain dari berbagai disiplin ilmu karena penerapannya akan melibatkan berbagai faktor teknis maupun sosial. Terakhir, pengembangan green infrastructure dapat mendukung pembangunan yang berkelanjutan dalam tata kelola ekosistem perairan darat. (aa/ ed. sl)