Arahan Daya Dukung dan Penataan Ruang Danau



Cibinong, Humas LIPI. Indonesia memiliki banyak danau dengan beragam tipe dan karakteristiknya. “Dalam pengelolaan danau kita harus memperhatikan karakteristik, wilayah-wilayah penting yang mendukung ekologis danau serta proses dan dinamika di dalamnya” ungkap Lukman  pada acara Focus Group Discussion (FGD) “Instrumen Pengendalian Pemanfaatan di Kawasan Prioritas Lumbok Seminung (Ranau) pada DAS Musi, WS Musi-Sugihan-Banyuasin-Lemau” yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (2/9).

Karakteristik Fisik
Daerah tangkapan air (DTA) danau meskipun bukan wilayah danau, tetapi harus menjadi perhatian pertama karena setiap aktivitas dan pemanfaatan lahan di dalamnya akan bermuara dan berdampak terhadap perairan danau. Pola aliran sungai adalah media pengangkut berbagai material dari daratan ke perairan danau, baik dari aktivitas antropogenik mapun alami yang berkontribusi terhadap kondisi danau. Pada sisi lain pola aliran sungai akan mempengaruhi dinamika massa air di perairan danau. Bathimetri dan morfometri yang merupakan kondisi fisik danau, akan menentukan batas-batas kapasitas produksi dan beban dari aktivitas yang berkembang yang dapat ditampungnya serta memberikan gambaran potensi ruang yang dapat dimanfaatkan.

Wilayah Danau
Menurut Lukman wilayah-wilayah danau yang menjadi perhatian dimulai dengan wilayah tepian yang dikenal dengan zona tepian (riparian zone), inlet danau, zona littoral, dan zona profundal. Inlet danau adalah pintu masuk berbagai pencemar dari daratan, sehingga wilayah ini dapat menjadi lokasi pemantauan air baik secara kuantitas maupun kualitas. “Di danau-danau tertentu secara ekologis wilayah ini merupakan pintu keluar masuk ikan-ikan bermigrasi, bereproduksi sehingga area ini penting dan rentan karena menjadi tempat penangkapan ikan,” tutur Lukman.

Zona tepian merupakan transisi antara wilayah daratan dan perairan yang keberadaannya dipengaruhi oleh fluktuasi muka air dan kondisi morfometri danau. Zona ini secara ekologis merupakan batas danau, wilayah ekoton perairan dan daratan yang umumnya memiliki keragaman biota yang tinggi, serta secara fisik menjadi wilayah sempadan danau.

Wilayah penting selanjutnya adalah zona littoral, yakni wilayah penghasil energi  dan pendukung kehidupan danau karena ketersedian cahaya matahari yang mencapai dasar perairan. Di wilayah ini terdapat beragam tumbuhan air dan berbagai biota dasar serta tempat pemijahan ikan. “Zona ini sangat beragam, unik dan  berkontribusi besar karena  subur untuk mendukung kehidupan danau. Hal ini perlu diketahui  terkait penetapan zonasi wilayah perairan danau,” rinci Lukman.

Sedangkan zona limnetik, berada di tengah perairan danau dengan pengaruh atmosfir yang dominan dan masih ada cahaya untuk proses fotosintesa. Sementara zona profundal merupakan zona bagian bawah yang menjadi tempat akumulasi bahan-bahan yang masuk ke perairan danau. Zona profundal ini jarang sekali diperhatikan, padahal jika ada pergerakan massa air vertikal dampaknya akan sampai ke wilayah permukaan “Bila ada aktivitas budidaya ikan di  karamba jaring apung (KJA), zona ini akan menampung limbah dari aktivitas KJA tersebut yang membebani oksigen dengan dampak meningkatnya kolom  anoksik pada lapisan perairan bagian dalam” ungkap Lukman.


Pengelolaan Danau
Pada kesempatan yang  sama, Lukman menerangkan tiga aspek pengelolaan danau meliputi konservasi, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air yang menciptakan kesinambungan fungsi ekosistem danau dalam rangka mendukung kehidupan masyarakat. Jadi dua hal yang menjadi perhatian pengelolaan danau di seluruh Indonesia, yaitu menetapkan daya dukung dan menetapkan arahan ruang pemanfaatannya. Pemahaman terhadap daya dukung ekosistem adalah melihat kemampuan lingkungan hidup untuk dapat mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan  antar  keduanya. Mengingat yang menjadi perhatian pada FGD ini adalah daya dukung untuk pengembangan KJA, maka yang perlu diperhatikan adalah beban/limbah dari aktivitas KJA yang berupa unsur hara dan organik. Namun demikian, tinjauan daya dukung saat ini lebih pada beban atau keseimbangan hara khususnya komponen fosfor yang memberi dampak terhadap eutrofikasi perairan.

“Formulasi daya dukung pengembangan KJA adalah mengacu pada: Pertama, morfometri danau yaitu luas perairan danau dan kedalaman rata-rata laju pengelontoran. Kedua, karakteristik budidaya ikan yaitu jenis ikan yang dibudidaya, laju konversi pakan, kadar fosfor pada pakan.  Ketiga dari kualitas perairan yaitu status trofik saat ini, beban total fosfor  dan status trofik yang dikehendaki,” pungkas Lukman.

Arahan tata ruang di perairan danau, khususnya terkait pengembangan KJA, adalah perlunya memperhatikan karakteristik ekologis dan pemanfaatan ruang  danau yang telah ada maupun potensi yang dapat dikembangkan. Batasan untuk pengembangan KJA adalah menghindari pemanfaatan lain yang dapat mengganggu dan terganggu, hal ini terkait kriteria kebutuhan kualitas air yang sangat berbeda dari setiap pemanfaatan, serta memperhatikan zona-zona penting danau, faktor hidrodinamika dan wilayah dengan keragaman ekologis tinggi (Yo ed Sl).