Peluang Kerjasama Penelitian Perairan Darat di Kawasan ASEAN



Cibinong, Humas LIPI. Saat ini, perairan darat daerah tropis tengah mengalami berbagai masalah diantaranya pencemaran air, eutrofikasi, dan sanitasi disebabkan eksploitasi perairan darat seiring penambahan populasi manusia, perbedaan kepentingan baik ekologi maupun ekonomi sehingga menjadi rentan dan kritis. Disisi lain, ekosistem perairan darat mempunyai peran penting dalam menjaga ketersediaan air untuk kehidupan, mengendalikan iklim dan siklus unsur hara, serta mengatur sistem hidrologi suatu kawasan. “Ekosistem perairan darat di daerah tropis memiliki karakteristik yang sangat khas, berbeda dengan kawasan sub-tropis, sehingga diharapkan kita dapat mempertahankan keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistemnya.,” terang Kepala Pusat Penelitian Limnplogi LIPI, Fauzan Ali pada Webinar ASEAN Talks: Inland Water Ecosystem (27/8).


Fauzan menjelaskan perairan darat di daerah tropis merupakan tempat hidup bagi organisme akuatik dan komponen abiotik yang berinteraksi satu sama lain Untuk itu, LIPI melalui Pusat Penelitian Limnologi LIPI mendorong suatu kerjasama dan sharing pengetahuan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air terkait isu penting pada tingkat nasional, regional maupun global seperti penurunan kualitas air, adaptasi perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan mitigasi bencana,” tuturnya mengawali sambutan.

 Hal senada juga disampaikan oleh Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI sekaligus Sekretaris Jenderal  Southeast Asian Limnological Network (SEALNet), Luki Subehi.  “Salah satu potensi kegiatan yang sedang dirintis dalam kerangka partnership antara SEALNet dan ASEAN Committee on Science, Technology, and Innovation (COSTI) dibawah Sub-Committee on Marine Science And Technology (SCMSAT) adalah kolaborasi dalam pengelolaan pesisir dan penelitian bersama tentang adaptasi dan mitigasi perubahan ekosistem perairan darat dan laut,” ujar Luki.


Luki menambahkan, pada pertemuan SCMSAT 2019 di Singapore, diangkat isu masih relatif kurangnya perhatian untuk pemantauan, pengelolaan, dan konservasi ekosistem perairan darat tropis di kawasan ASEAN.  Sehingga salah satu hasil pertemuan tersebut mendorong Laos sebagai negara daratan (country land) bersama-sama Indonesia (SEALNet dan Puslit Limnologi LIPI) untuk membuat usulan kegiatan kajian perairan darat.

Luki memaparkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman menghadapi masalah terkait dengan penggunaan lahan, sedimentasi, europhication, kematian ikan mssal, dan pencemaran air. “Penyelenggaraan Webinar ASEAN Talks kali ini sebagai wadah komunikasi dan diskusi untuk mencari potensi peluang kerja sama kajian perairan darat antar negara-negara ASEAN,” jelasnya.
 
 

 
Sementara itu, Dr. Michele Chew, The Head Division of Science and Technology, ASEAN Secretariat mengatakan acara ini penting untuk membahas terkait limnologi dan  berharap acara diskusi ini dapat diadakan berkelanjutan  tidak hanya membahas tentang marine science  and  technology tetapi juga science technology and innovation.



Beberapa narasumber yang berasal dari Negara ASEAN lainnya memaparkan materi sesuai pengalaman di negara masing-masing, antara lain narasumber dari Philipina yang juga merupakan Chairperson of SEALNet, Adelina Santos Borja memaparkan tentang pengelolaan danau dengan menerapkan Fishery Zoning dan pengelolaan berdasarkan daya dukung danau.

Selanjutnya Prof. Dr. Wan Maznah Wan Omar dari Universiti Sains Malaysia yang juga sebagai Treasure of SEALNet mengungkapkan Malaysia menghadapi beberapa masalah yang berkaitan dengan sumber daya air antara lain kekeringan dan banjir, pencemaran air, sedimentasi, resources depletion dan coastal erosion pantai,” tutur Wan.

 Pada kesempatan yang sama Khantavanh Inthavong dari National University of Laos (NuoL) mengatakan tentang Laos yang tidak memiliki garis pantai, namun memiliki potensi sumber daya perairan darat yang besar sebagai negara daratan “Sungai Mekong sebagai salah satu contoh perairan darat lintas negara, memiliki peran penting di Laos dan juga negara terdekatnya, Kamboja, Thailand dan Vietnam. Dalam kegiatannya, mereka terlibat bersama untuk pengelolaan sumber daya air dan pengembangan  potensi ekonomi  sungai,” ungkap Inthavong.

Pada akhir acara Prof. Masahisa  Nakamura, Vice President of International Lake Environment Committee (ILEC), Japan memperkenalkan tentang Integrated Lake Basin Management (ILBM) platform sebagai pedoman bagi para stakeholder untuk  pengelolaan danau yang berkelanjutan. Beliau sangat mendukung adanya diskusi perairan darat tropis di kawasan ASEAN ini yang nantinya akan menjadi bahan masukan untuk pengelolaan perairan darat global (Yo ed Sl)