Sistem Lahan Basah untuk Penyehatan Ekosistem Danau Maninjau



Cibinong, Humas LIPI. Danau Maninjau di Sumatera Barat termasuk salah satu dari 15 Danau yang ditetapkan Pemerintah sebagai Prioritas Nasional. Menjadi prioritas karena permasalahan yang dihadapi terutama yang berhubungan dengan aktivitas manusia. ”Sisa pakan dan kotoran kegiatan budidaya ikan seperti aktivitas keramba jaring apung (KJA) akan masuk ke danau sehingga memicu eutrofikasi dan hipoksia di Danau Maninjau,” ungkap Guruh Satria Ajie M.Sc, Peneliti Pusat Penelitian Limnologi-LIPI pada acara Limnology Lecture Series 2020  Seri 2 tentang “Ekosistem Lahan Basah (Wetland) yang diadakan oleh Masyarakat Limnologi Indonesia (25/8).


Ajie menjelaskan eutrofikasi ditandai dengan  terjadinya blooming algal yang akan merusak sumber air dan hipoksia yaitu kekurangan oksigen yang mengakibatkan kematian massal ikan di Danau Maninjau. “Hal ini dilihat  sebagai suatu masalah yang terjadi di ekosistem Danau Maninjau, secara keseluruhan yang mengakibatkan penurunan kualitas air,” tutur Ajie.


Dirinya menjelaskan pada 2018-2019 Puslit Limnologi LIPI terlibat dalam kegiatan prioritas nasional untuk menawarkan teknologi penyehatan bagi ekosistem yang dapat menangani dua permasalahan yaitu mengurangi masukan dari KJA dan memperbaiki  kualitas air dan sedimen di Danau Maninjau.

Lebih lanjut Ajie menjelaskan Pusat Penelitian Limnologi-LIPI  mengusulkan suatu sistem lahan basah yang terdiri dari kolam stabilisasi limbah dan kompartemen lahan basah buatan beserta absorben. Sistem ini dapat membantu penyehatan Danau Maninjau. Secara konseptual difungsikan sebagai suatu filter atau  penyaring perbaikan kualitas danau, sistem dibangun di laboratorium prototip Puslit Limnologi LIPI. Prototipe ini berkinerja cukup  baik dalam meningkatkan kualtas air.

“Sistem lahan basah sebagai daerah penyangga ekosistem danau, berpotensi diterapkan di Danau Maninjau  sebagai sistem untuk mengolah kualitas air,” papar Ajie. “Tantangan di Danau Maninjau sangat komplek karena aktifitas masyarakat sekitar. Sistem lahan basah sangat efektif untuk melindungi ekosistem danau,” imbuhnya.

Menurut Ajie, keuntungan lain bila sistem lahan basah diterapkan dapat memperbaiki kualitas air, sehingga kematian ikan, algal blooming  dapat dihindari, tentunya dengan skala yang tepat dalam menanganinya. Selain itu lahan basah berfungsi pula secara alamiah sebagai bahan penyimpan karbon sehingga bila dikelola dengan baik dapat membantu menyehatkan dan melindungi ekosistem Danau Maninjau. “Apabila danau ini menarik, akan banyak wisatawan yang berkunjung dan membuka mata pencaharian lain selain usaha karamba,” tutup Ajie. (Yo ed Sl)