Danau Tempe, Permasalahan dan Solusi Berbagai Perspektif



Cibinong, Humas LIPI. Sebagai danau rawa banjiran, Danau Tempe di Sulawesi Selatan mempunyai keunikan tersendiri  yaitu mempunyai genangan permanen dan genangan tidak permanen yang saling berinteraksi, masing-masing mempunyai fungsi yang penting pada siklus hidup ikan. Namun saat ini, danau tempe masuk dalam revitalisasi 15 danau kritis di Indonesia dan menjadi prioritas nasional untuk ditangani. Masalah sedimentasi dan banjir dengan  periode cukup lama menjadi faktor penyebabnya.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) didukung oleh tugas dan fungsi Pusat Penelitian Limnologi menegaskan siap membantu meneliti ekosistem air, membantu masyarakat sekitar Danau Tempe untuk menyelesaikan permasalahan dari polusi di Danau Tempe, melestarikan benih ikan dan menunjang kemampuan masyarakat dalam mengolah potensi Danau Tempe.

“LIPI diharapkan dapat memberikan solusi karena apapun yang terjadi  dengan tata kelola dan upaya pelestarian sumber daya alam, termasuk danau pasti beririsan dengan aspek ekonomi, aspek sosial budaya. Pendekatan yang integratif dan holistik dapat diimplementasikan dengan berbagai modifikasi pada kasus Danau Tempe,“ terang Kepala LIPI Laksana Tri Handoko pada Webinar ”Penyelamatan Ekosistem dan Ikan Asli Danau Tempe pada Sabtu (22/8).


Pernyataan Handoko senada dengan harapan Anggota DPR RI Komisi VII yang berasal dari Sulawesi Selatan, Andi Yuliani Paris. “Pemerintah Daerah sangat menunggu peran LIPI dalam memberikan bantuan penanggulangan terhadap permasalahan yang saat ini ada dan mengembangkan usaha konservasi pemerintah yang telah dilakukan menjadi lebih baik,” harapnya.

Andi mengungkapkan permasalahan yang selama ini di Danau Tempe yakni menurunnya keanekearagaman hayati, lemahnya kemampuan sumberdaya nelayan, fungsi dan peranan kelembagaan nelayan dan macoa tappareng belum optimal, masih berlangsungnya praktek penangkapan ikan dengan alat tangkap yang dilarang, kemitraan dengan kelompok usaha bersama dengan koperasi dan mitra usaha lainnya serta akses permodalan yang minim, belum optimal TPI, dan adanya predator kompetitor ikan sapu-sapu.

Andi mengatakan ada tantangan-tantangan kedepan untuk kita semua  bagaimana meningkatkan perekonomian masyarakat dengan menjaga ekosistem dan menjaga kelestarian ikan asli Danau Tempe. Dirinya mengajak LIPI untuk melakukan penelitian  kembali membudidayakan ikan-ikan asli Danau Tempe

Sementara itu, Kepala Puslit Limnologi LIPI, Fauzan Ali mengatakan Puslit Limnologi dalam tugas dan fungsinya melakukan pengkajian konsep pengelolaan baik danau atau sungai dari hulu ke hilir. Menurutnya masalah umum yang dialami danau atau sungai, adalah pencemaran, hilangnya keanekeragaman hayati dan pendangkalan akibat alih usaha danau/sungai tersebut.  “Melalui pengendalian pemanfaatan ekosistem danau dan dengan melihat daya dukung dan daya tampung danau akan dapat melestarikan danau/sungai tersebut,” jelas Fauzan,

 
Terkait Danau Tempe, Fauzan menerangkan Danau Tempe termasuk daerah paparan banjir yang terdiri dari sub sistem yang saling berinteraksi yaitu genangan permanen dan genangan tidak permanen dimana hal ini sangat penting untuk kelestarian danau. Terkait permasalahan yang terjadi di Danau Tempe, Fauzan menjelaskan penyebabnya adalah sedimentasi yang terjadi sehingga diperlukan langkah revitalisasi di Danau Tempe.

Sedangkan terkait sektor perikanan, Danau Tempe memiliki banyak kuantitas ikan yang beraneka ragam, dikarenakan proses pemijahan ikan yang sangat baik. “Adanya fluktuasi hujan yang cukup di daerah Danau Tempe memiliki peran yang penting untuk perbanyakan kuantitas ikan karena menyediakan potensi makanan ikan,” tuturnya

“Rekomendasi alternatif dari permasalah di Danau Tempe adalah dengan revitalisasi berbasis daya dukung ekosistem untuk mengembalikan fungsi habitat dengan mempertahankan atau memperluas genangan tidak permanen dan memperdalam genangan permanen sehingga ekosistem sektor perikanan terjaga,” terang Fauzan. “Batimetri hasil revitalisasi menghasilkan pola arus yang menyebabkan akumulasi sedimen paling sedikit sehingga biaya pemeliharaan lebih murah.

 
Pada kesempatan yang sama, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ruandha Agung Sudirman mengaminkan pernyataan Fauzan. “Permasalahan yang terjadi di Ekosistem Danau Tempe adalah sedimentasi, perkembangan eceng gondok dan penurunan kualitas air danau,” jelasnya.

“Tantangan yang dihadapi terkait pengelolaan Danau Tempe adalah adanya peningkatan curah hujan akibat kecenderungan peningkatan suhu udara minimum dan maksimum sehingga mengakibatkan peningkatan banjir, kesuburan danau/eutrofikasi akibat curah hujan yang tinggi akan mengurangi kesuburan habitat ikan, kualitas air yang menurun dan perubahan pola rendaman (pasang surut) mengakibatkan perubahan terhadap pengelolaan lahan dan perairan,” imbuhnya.

Pernyatan serupa diungkapkan Direktorat Bendungan dan Danau, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,  Airlangga Mardjono. “Permasalahan umum yang ada di Danau Tempe adalah berkurangnya luasan dan volume tampungan danau, alih fungsi lahan di sekitar Danau tempe sebagai perumahan dan pertanian membuat penyempitan lahan di Danau Tempe dan menjadi salah satu faktor peningkatan banjir, adanya laju sedimentasi, serta meningkatnya pertumbuhan tanaman air dan gulma,” rincinya.

“Solusi untuk mengatasi masalah sedimentasi yang tinggi dan permukiman yang padat di Danau Tempe adalah melalui dredging untuk menambah kapasitas danau dan sungai serta pembangunan bendungan di beberapa wilayah inflow Danau Tempe,” pungkas Airlangga. (Yo ed Sl)