Fitoplankton sebagai Indikator Kondisi Perairan Danau

 
Cibinong, Humas LIPI. Apa sebenarnya fitoplankton itu? Fitoplankton merupakan organisme mikroskopis photoautotroph yakni mikroorganisme yang membuat energi menggunakan sinar matahari dan menggunakan korbondioksida melalui proses fotosintesis untuk kelangsungan hidupnya di perairan.  “Fitoplankton merupakan komponen yang penting di dalam ekosistem karena merupakan produsen primer yang menentukan produktifitas pada trofik level berikutnya yaitu pada ikan. Fitoplankton juga memiliki peran pada proses biogeokimia di dalam ekosistem perairan danau,” ungkap  Ir. Sulastri, Peneliti Utama Pusat Penelitian Limnologi LIPI pada acara Limnology Lecture Series 2020  Seri 1 tentang “Pengenalan Biodiversitas Fitoplankton” yang diadakan oleh Masyarakat Limnologi Indonesia (28/7).


Sulastri menjelaskan dalam hubungannya dengan proses biogeokimia pada perairan danau yang eutrofik pada kondisi sedimen yang anoksik dan kaya nutrient maka unsur hara fosfat dilepaskan ke kolonm air karena tidak diikat oleh besi sehingga meningkatkan fosfat pada kolom air,  membuat fitoplankton terus tumbuh subur.  Hal ini yang biasanya menyebabkan permasalahan di perairan danau bila masukan unsur hara peperairan tidak dikendalikan. "Dalam pengelolaan danau pemahaman tentang fitoplankton  tidak bisa ditinggalkan karena fitoplankton merupakan indikator di dalam menentukan strategi pemanfataan dan pelestarian perairan danau.” jelas Sulastri.

Dirinya menerangkan, fitoplankton memiliki bentuk yang sangat banyak dan dapat dikelompokkan berdasarkan warna pigmen, kumpulan sel atau sel tunggal, ada tidaknya flagela dan juga beberapa pergerakan. Fitoplankton di perairan laut  terdiri dari 4000-5000 species, sedangkan di perairan tawar belum dapat diketahui. “Tidak mudah untuk mengenali fitoplankton, diperlukan pengalaman yang cukup banyak dan berulang-ulang  untuk mengamati  jenis-jenis tersebut,” terang Sulastri.

Lebih lanjut Sulastri menjelaskan kelompok cyanophyta (cyanobacteria) merupakan kelompok fitoplankton yang sensitive terhadaap perubahan unsur hara, sehingga sering dijadikan indikator kesehatan perairan. Pada tingkat Microcystis aeruginosa dominansinya yang tinggi hingga mencapai blooming  menjadi permasalahankematian ikan, bau kurang sedap dan meresahkan masyarakat. Di Indonesia  kondisi blooming, Cyanobacteria seperti sering terjadi di Danau Maninjau.  Jenis-jenis dari kelompok Cyanobacteria ini mengeluarkan bahan toksik yang menggangu kesehatan pada hewan dan manusia .“Namun di Indonesia belum diketahui kandungan dan jenis bahan toksik dari kelompok cyanobacteria di perairan danaau.yang ada di perairan danau. Hal ini menjadi tantangan ahli limnologiuntuk mempelajarinya karena bila sumber daya air yang berfungsi sebagai supply dari kebutuhan air minum masyarakat maka harus kita ketahui persis bagaimana status kualitas air ditinjau dari toksisitas  jenis-jenis Cuanobacteria,,” jelas Sulastri


Di akhir paparan Sulastri mengutarakan bahwa ada faktor pemicu yang memberi respon terhadap struktur  fitoplankton di danau. “Terdapat beberapa faktor utama dan penting yang menentukan struktur fitoplankton di danau, antara lain iklim, morfometri danau, dan juga beban masukan nutrient. Sedangkan di danau-danau dalam, ada faktor lain  yaitu stratifikasi dan mixing  (pegadukan) merupakan faktor yang mempengaruhi fitoplankton beradaptasi dslsm memanfaatkan nutrient.  Untuk Danau- danau yang dangkal struktur komunitas sangat dipengaruhi beban masukan nutrient.   Perubahan-perubahan musiman kondisi iklim membentuk struktur komposisi fitoplankton juga mampe beradaptasi pada perubahan lingkungan tersebut,” pungkasnya.  (yo ed sl)