Sumber Daya Air Terpadu Solusi Kala Pandemi COVID-19

 


Cibinong, Humas LIPI. Indonesia merupakan negara terbesar ke-5 secara global sebagai konsumen air setelah negara India, Cina, Amerika, dan Rusia. “Sebanyak 70% air di Indonesia digunakan dalam sektor pertanian, 19% untuk bidang industri, kemudian sisanya yaitu 11% digunakan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari,” ungkap Ignasius Dwi Atmana Sutapa, Peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sekaligus sebagai Direktur Eksekutif Asia Pacific Centre for Ecohydrology (APCE) dalam webinar The Answer are in the Water: the UNESCO Family in Asia and the Pacific Responds to the COVID-19 Pandemic. (28/7)

Kendati demikian, menurut Ignasius, pandemi COVID-19 mampu mengubah aspek kehidupan seperti kebiasaan manusia, penyesuaian konsumsi, tata urutan prioritas, dan terkecuali dalam pola konsumsi air. “Kondisi pandemi saat ini mengakibatkan turunnya jumlah konsumsi air kemasan di dalam rumah maupun di luar rumah,” ujarnya.

Menurut catatan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bogor, penurunan pendapatan dalam hal konsumsi air mengalami penurunan. “Ini tantangan PDAM, hal ini dapat disebabkan karena kondisi ekonomi pelanggan yang mengalami penurunan hingga berdampak dalam berkurangnya pembelian air minum. Selain itu, kondisi sosial-ekonomi yang tidak stabil yang dikarenakan pandemi menyebabkan ketidakpastian kondisi di masa depan,” jelas Ignasius.

Di Indonesia, Sumber Daya Air diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2019. Berdasarkan undang-undang tersebut, Ignas memaparkan strategi yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan air di kala new normal, antara lain, menjaga keseimbangan antara ketersediaan air dan kebutuhan; menyediakan infrastruktur sumber daya air yang memadai dan menyediakan sumber daya air alternatif di area tertentu; menyediakan data, teknologi dan penelitian sebagai basis manajemen sumber daya air; mengurangi resiko kekurangan air, banjir, dan kekeringan; menemukan solusi yang bersinergis terkait masalah lintas sektor antara sektor pertanian, kehutanan, kesehatan, energi, dan sektor industri; manajemen sumber daya air terpadu dan pengendalian banjir; serta konservasi sumber daya air berbasis inovasi, partisipasi masyarakat, dan kearifan lokal.

Selain itu, dirinya menyatakan rencana pengembangan pasokan air dapat menjadi solusi permasalahan saat pandemi. “Untuk komponen sumber, dapat dilakukan pengamanan air minum di area sumber air seperti di mata air, sungai, danau, laut, air tanah dangkal, atau air tanah dalam. Kemudian untuk komponen operator dapat dilakukan pengamanan air minum yang dilakukan dalam sistem pengolahan air minum seperti pada unit asupan, pengolahan, dan distribusi. Sementara untuk komponen konsumen, dapat dilakukan pengamanan air minum pada tingkat konsumen dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memiliki perilaku bersih dan sehat,” papar Ignasius.

Konsep Ekohidrologi

Ignasius menegaskan, ekohidrologi merupakan pendekatan komprehensif untuk manajemen sumber daya air berkelanjutan. “Konsep ekohidrologi adalah menyatukan berbagai aspek diantaranya hidrologi, ekologi, ekoteknologi, dan budaya. Prinsip-prinsip ekohidrologi ada tiga diantaranya, prinsip ekohidrologi yaitu untuk mengukur ancaman, prinsip ekologi yaitu untuk menggambarkan integritas ekologis, prinsip ekoteknologi untuk meningkatkan kapasitas ekosistem, dan prinsip budaya yaitu dimana budaya sebagai jembatan untuk meningkatkan hubungan dinamis antara sistem hidrologi, sosial, dan ekologi,” tegasnya.

“Dibutuhkan juga edukasi tentang water ecohydrology kepada generasi muda, dan semua lapisan masyarakat. Ini adalah waktu dimana kita harus menyelamatkan bumi kita,” tutup Ignas.
Sebagai informasi, webinar ini dipandu oleh Hans D. Thulstrup selaku Senior Programme Specialist for Water and Enviroonmental Sciences UNESCO Jakarta dan dibuka dengan sambutan oleh Shahbaz Khan sebagai Director and Representative UNESCO Office Jakarta. (sf)