Limnologi dan Ekohidrologi Sungai dalam Mitigasi Dampak Perubahan Iklim


 

Cibinong, Humas LIPI. Jumlah Sungai di Indonesia tercatat mencapai 5.590 sungai utama dan 65.017 cabang dan luasannya. Sedangkan total panjang sungai utama mencapai 94.573 km. “Begitu banyaknya sungai di Indonesia sehingga agar pengelolaannya lebih mudah dibagi menjadi 133 wilayah sungai, “ujar Prof. Gadis Sri Haryani, Peneliti Utama Pusat Penelitian Limnologi LIPI yang membahas “Limnologi dan Ekohidrologi Sungai dalam Mitigasi Dampak Perubahan Iklim” pada acara Webinar Lawalata IPB yang mengangkat Topik “Mengulas Perubahan Iklim di Indonesia Dan Dampaknya Terhadap Kelestarian Sungai” (27/7).

Gadis menjelaskan, dampak perubahan iklim di  Indonesia berdasarkan  prediksi akan mengalami peningkatan hujan sebesar 2-3% tiap tahunnya. Musim hujan menjadi lebih pendek dengan peningkatan intensitas hujan, sehingga peningkatan run off menjadi lebih besar di sungai disamping musim kering juga akan lebih panjang. “Hal ini tentu saja menyebabkan penguapan yang tinggi yang berakibat mengurangi volume air di sungai. Selain itu perubahan ekologi juga terpengaruh dengan peningkatan sedimentasi dan nutrient serta polutan, “ungkapnya.

Dirinya menerangkan bila dilihat lebih detail lagi dampak perubahan iklim bisa dibagi menjadi tiga yaitu dampak fisik, dampak kimiawi dan dampak biologi. “Dampak fisik terkait dengan kesatupaduan daerah tangkapan air dimana konektivitas antara danau dan sungai akan terpengaruh serta mempengaruhi debit sungai dan suhu perairan. Sedangkan dari dampak kimiawi akan menyebabkan peningkatan kontaminan dan sedimentasi Daerah Aliran Sungai (DAS) hingga semakin mengumpulkan polutan-polutan serta dengan perubahan  iklim akan semakin meningkatkan kontaminan yang masuk ke sungai,”terang Gadis.

Sementara dari dampak biologi, Gadis menerangkan bahwa perubahan iklim akan menyebabkan ancaman terhadap jumlah spesies dan perubahan pada skala, struktur serta dinamika ekosistem hingga perubahan fisiologis spesies yang mengakibatkan terjadinya pergeseran geografis berbagai taksonomi terkait migrasi, “jelasnya. “Dampak perubahan iklim menyebabkan fluktuasi air sungai yang ekstrem, peningkatan suhu, perubahan siklus nutrient, perubahan rantai makanan, perubahan pola reproduksi dengan sendirinya suatu saat akan terjadi kehilangan keanekaragaman hayati,” imbuh Gadis.

Gadis mengisahkan, pada awalnya manusia menganggap bahwa potensi alam tidak terbatas kemudian manusia menaklukkan alam. Pada era revolusi semakin mengekploitasi dan terjadi penurunan keanekaragaman hayati, sehingga perlu dilakukan aksi perlindungan alam. Dengan ini  mulai dipahami suksesi ekologi sehingga dilakukan restorasi ekologi dan kesadaran semakin meningkat.  Sehingga perlu pengaturan proses lingkungan menuju harmonisasi potensi ekosistem dan kebutuhan sosial yang bisa dilakukan dengan ekohidrologi, karena ini merupakan ilmu transdisiplin. “Ekohidrologi merupakan interaksi proses hidrologi dengan dinamika biologi dalam kuantitas, kualitas, dam kondisi spasial dan temporal untuk ketersediaan air yang berkelanjutan,” jelasnya.

Gadis juga menjelaskan tentang solusi bagaimana menggunakan pendekatan ekohidrologi  bila suatu air limbah pabrik dibuang ke IPAL sebelum dibuang  ke sungai maka perlu difilter menggunakan lahan basah buatan dan tanamannya bisa digunakan untuk bioenergy, sehingga mengurangi emisi CO2 dan kualitas air akan lebih baik selanjutnya pariwisata bisa meningkat dengan kondisi yang baik dan juga membuka lapangan pekerjaan.

Di akhir paparan, Gadis mengatakan kerusakan yang dikarenakan kegiatan manusia ditambah dengan perubahan iklim menyebabkan ancaman terhadap barang dan jasa lingkungan dari ekosistem sungai dan mitigasi dampak perubahan iklim sehingga memerlukan pendekatan limnologi dan ekohidrologi untuk meningkatkan daya dukung dan kemampuan pemulihan secara alamiah ekosistem sungai. “Berbagai kasus kerusakan sungai yang terjadi perlu dilihat tidak hanya dari sudut pandang penurunan daya dukung, kehilangan biota, dan kelangkaan sumberdaya, namun harus lebih dilihat sebagai suatu proses bencana yang terjadi secara berangsur sehingga perlu ditangani secara terintegrasi dan berkelanjutan,” pungkas Gadis. (yo ed sl)