Peran Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Perikanan Darat


Cibinong, Humas LIPI. Indonesia memiliki kekayaan keberagaman ekosistem yang tersebar di darat, sungai, waduk, rawa, dan danau. Keberagaman ekosistem mencerminkan bahwa teknologi budidaya atau produksi perikanan kita akan berbeda satu sama lain, karena berbeda ekosistem maka berbeda spesies dan berbeda pula teknologinya. Kita juga memiliki potensi kearifan lokal yang sangat besar dan baru sebagian yang terekspos di masyarakat. Hal  Ini perlu dikaji bersama terkait produksi perikanan. Apabila dikelola dengan baik dan bertanggung jawab maka perikanan dapat menjadi sumber modal utama pembangunan di masa kini dan akan datang seperti yang dilansir oleh Bappenas.

Dr. Fauzan Ali, M.Sc., Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI mengatakan, pengelolaan perikanan berkelanjutan tentu harus ada dasarnya. “Selama ini, pengalaman di banyak negara dapat  mengelola perikanan keberlanjutan secara aspek ekonomi, ekologi dan sosial dipicu oleh  kesadaran lingkungan di masyarakatnya, ini yang perlu kita cerahkan ke depan kepada setiap pengguna perairan darat supaya muncul kesadaran lingkungan yang tinggi diantara mereka, sehingga akan meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, terjaga kelestarian ikan, dan terjaga kesehatan ekosistemnya,” terangnya pada Webinar bertema Right- Based Fisheries Management for Inland Fisheries in Indonesia: Challenge and Opportunity yang diadakan IPB (26/7).

Dirinya mengungkapkan, banyak daerah di Indonesia memiliki spesies ikan yang khas mulai dari ujung Aceh sampai Papua dimana masing-masing perairan mempunyai endemik spesies yang tidak ada di tempat lain. “Kita dapat mengelola spesies endemik tersebut dengan bekerjasama pemerintah daerah yang peduli dengan potensi daerahnya, dan sebagai ilmuwan kita tetap bertindak pro aktif untuk hal ini” ungkap Fauzan.

“Tim peneliti pada saat melaksanakan survey  ke lapangan dapat  mengkomunikasikan dengan aparat pemerintah daerah dan menggali potensi yang ada di masyarakat terkait komoditas perairannya, setelah itu kita sampaikan pencerahan-pencerahan bagaimana potensi daerahnya dapat  digali lebih jauh sehingga muncullah ketertarikan dari pemda untuk mengelola komoditas itu,” jelas Fauzan. “Selanjutnya kita yang memberi arahan bagaimana komoditas itu dapat  dikelola dengan baik. Seperti contoh yang sudah dilakukan di Samosir dengan endemik spesies Ikan Batak yang nyaris punah,” imbuh Fauzan.

Lebih lanjut Fauzan menegaskan akan tuntutan peran sebagai institusi penelitian, institusi pendidikan dan institusi pemerintahan yang terkait perikanan. “Ke depan, sebagai lembaga pemerintah yang bergerak di bidang pendidikan dan penelitian, kita perlu  menggali lebih banyak penjelasan ilmiah tentang kearifan lokal untuk pengelolaan perikanan perairan darat kita yang berkelanjutan. Tugas kita memberikan pencerahan kearifan lokal, baik dari sisi manajemen maupun scientific perikanan,” jelasnya.

Fauzan juga menekankan perlunya memberikan pembekalan iptek untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam berusaha karena tidak semua petani ikan mengerti dengan  baik  bagaimana berbudidaya dan melestarikan lingkungan.  “Kita dapat pertemukan antara science dengan kenyataan yang ada di lapangan, “ gagasnya. “Mengingat makin tertekannya biota endemik  kita, maka dengan kearifan lokal, kajian domestikasi dan teknik budidaya ikan asli Indonesia tetap harus kita tingkatkan ke depan,” pungkas Fauzan. (yo ed sl)