Danau Poso, Danau Purba Yang Tetap Kita Jaga

 
Cibinong, Humas LIPI. Danau Poso merupakan salah satu danau terdalam ketiga di Indonesia yang terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah dan merupakan salah satu danau prioritas nasional dengan segala karakteristik dan permasalahannya. Pada acara webinar bertema Danau Poso, Danau  Purba Jantungnya Wallace yang diadakan oleh Masyarakat Ikhtiologi Indonesia (6/6) dibahas tentang strategi pengelolaan dan konservasi Danau Poso di era kenormalan baru.

Dr. Lukman, M.Si, Peneliti Puslit Limnologi LIPI menjelaskan setiap danau mempunyai karakteristik yang berbeda-beda baik dari segi kimia, biologi maupun fisika.  sehingga akan memberikan ciri dan karakteritik biologis dan chemical yang menjadi perhatian untuk pengelolaan selanjutnya. “Ciri -ciri danau purba memiliki umur antara 1-30 juta tahun dengan perairan umumnya ultra-oligotrophy agak unik, dan memiliki tingkat endemisitas fauna yang tinggi, tetapi ada juga kriteria lain minimal mengalamai satu siklus periode jaman es (glassial) atau memiliki umur diatas 130.000 tahun,” ungkapnya.

Lukman menjelaskan, Danau Poso disebut danau purba yang dicerminkan dari endemistas biota yang cukup tinggi  yaitu jenis-jenis endemis udang atydae, gastropoda, bivalvia, kepting dan ikan keterisolasion yang panjang memungkinkan berbagai ciri dan spesialisasi yang unik.  “Danau Poso adalah danau tektonik yang diduga terbentuk selama proses tumpukan antara lempeng timur dan  barat penyusun Pulau Sulawesi yang berlangsung selama 12-16 juta tahun silam dan danau Poso berada pada satu komplek patahan dengan patahan Palu,” tuturnya.

Lebih lanjut Lukman mengungkapkan, Danau Poso ditetapkan sebagai salah satu danau prioritas oleh pemerintah karena adanya beberapa hal yang menjadi  perhatian pemerintah yaitu adanya kerusakan danau, faktor pemanfaatan nilai strategisnya bagi masyarakat, komitmen dari pemda, danau strategis yang  pemanfaatannya  mempunyai  skala  di luar lingkup provinsi, dan keragaman hayati. “Ada indikasi permasalahan Danau Poso yaitu penurunan kedalaman perairan, indikasi pencemaran perairan pada masa lampau. Selain itu Danau Poso memiliki tingkat kesuburan rendah juga indikas perubahan habitat yang mungkin di luar perhatian kita yaitu perubahan wilayah transisi perairan-daratan menjadi persawahan dan lahan kering, penyurutan luas wilayah litoral karena pengerukan outlet danau dan terputusnya alur ruaya di Sungai Poso dengan adanya PLTA,”rinci Lukman.

“Di beberapa wilayah tepian danau sering tergenang air karena banjir padahal kalo kita lihat tinjauan limnologis, batas danau itu adalah batas air tertinggi pada saat banjir musiman maupun banjir 10 atau 5 tahunan,  tetapi ini menjadi satu legitimasi bahwa karena ada banjir di tepian danau sehingga outlet danau harus diturunkan agar tidak ada banjir padahal tinjauan dari limnologis ini merupakan wilayah transisi perairan darat penting ,” rinci Lukman lagi.

Di akhir penjelasannya Lukman menyimpulkan, kondisi dan permasalahan terjadi di danau-danau di Indonesia tidak hanya Danau Poso. “Perlu bersama -sama secara arif bagaimana memahami danau itu dan bagaimana kepentingan ekologisnya tetap terjaga dan bernilai guna bagi manusia serta dapat berlangsung sepanjang masa,” pungkas Lukman. (yo ed sl)