“IPAG60, Inovasi Pengelolaan Air Gambut Menjadi Air Bersih atau Air Minum”




Cibinong, Humas LIPI. Berdasarkan data Global Wetlands yang diakses pada 16 April 2019 dan dilansir melalui katadata.co.id, Indonesia memiliki lahan gambut terbesar kedua di dunia dengan luas mencapai 22,5 juta hektar yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Lahan gambut merupakan tipe tanah yang pembentukannya berasal dari tumpukan bahan organik sisa-sisa tanaman yang sudah atau sedang dalam proses pembusukan. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem menyebutkan gambut memiliki definisi material organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan, yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 cm atau lebih dan terakumulasi pada rawa.  

Prof. Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa, Profesor Riset Pusat Limnologi LIPI, dalam naskah orasinya pada tanggal 20 Agustus 2019 lalu menyebutkan bahwa air gambut tergolong air alami di lahan gambut yang memiliki karakteristik spesifik diantaranya warna coklat kehitaman, tingkat keasaman tinggi (nilai pH 2,5-3,50) dan mengandung berbagai senyawa organik serta non organik, ataupun mikroba dengan konsentrasi yang bervariasi tergantung lokasinya. Peneliti bidang kepakaran Teknik Lingkungan ini menyatakan pula bahwa tipe air dengan karakteristik tersebut masuk golongan C dan D, sehingga tidak layak untuk digunakan secara langsung oleh masyarakat untuk berbagai keperluan, seperti mandi, mencuci, memasak, minum atau kegiatan sanitasi lainnya. “Peningkatan kualitas air gambut perlu dilakukan agar dapat digunakan oleh penduduk setempat secara layak” tuturnya.

Rendahnya kualitas air gambut berdampak pada kesehatan masyarakat apabila digunakan secara langsung dan terus menerus dalam waktu yang panjang. “Tingkat keasaman yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan gigi dan penyakit pencernakan. Kandungan bahan organik tinggi dapat menimbulkan bau dan merupakan kondisi yang optimal untuk pertumbuhan mikroorganisme. Selain itu kemungkinan senyawa Three Halo Methane (THM) yang bersifat karsinogenik, kandungan besi dan mangan dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama,” jelas Ignasius.

Ignasius mengungkapkan, Instalasi pengolahan air gambut dengan kapasitas produksi 60 liter/menit atau disingkat IPAG60, sebagai alternatif teknologi untuk mengolah air gambut menjadi air bersih/minum yang memenuhi standar kesehatan. Hal ini dalam upaya meningkatkan layanan air bersih/minum di wilayah gambut guna memenuhi hak dasar masyarakat.

Teknologi

Pengolahan Air Gambut kapasitas produksi 60 liter per menit (IPAG60) merupakan inovasi dan penyesuaian untuk mengolah air gambut menjadi air bersih atau air minum seiring dengan revolusi industry 4.0.  Dalam naskah orasinya Ignasius menjelaskan teknologi yang dikembangkan IPAG60 dalam bentuk desain instalasi baru dengan beberapa karakteristik, yaitu: komponen koagulator, flokulator dan tangki sedimentasi, komponen tangki filtrasi dengan komposisi pasir silica dan karbon aktif untuk menghilangkan bahan pencemar dan pertikel-partikel halus yang lolos dari tahap sebelumnya, komponen penampung untuk menghilangkan bakteri pencemar yang mungkin masih ada dalam air produksi dengan penambahan bahan disinfektan klorin atau gas klor dalam jumlah minimal, 4) komponen tangki reservoir akhir.

“Komponen koagulator, flokulator dan tangki sedimentasi secara fisik dapat memisahkan air bersih dari sebagian besar bahan pencemar fisik, kimia dan biologi dengan efisiensi di atas 90%.  Sedangkan tangki reservoir akhir sebagai tempat penampungan air bersih yang siap didistribusikan dan digunakan oleh masyarakat,” urai Ignasius.

Ignasius mengatakan, inovasi teknologi IPAG60 mengintegrasikan tangki koagulator, flokulator dan sedimentasi, kombinasi bahan pengolah air gambut yang efektif dan efisien, perangkat instalasi sistem knock down, pengoperasian dan perawatan yang mudah dan relatif murah. Kombinasi bahan koagulan, peningkat pH dan desain konstruksi instalasi yang optimal dapat mengurangi biaya produksi air bersih. Perangkat instalasi sistem knock down memudahkan mobilisasi dan pemasangan di lokasi serta tidak membutuhkan lahan yang luas. “Sistem pengoperasian dan perawatan yang relatif mudah dapat disesuaikan dengan sistem kearifan lokal, agar dapat dipergunakan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat,” paparnya.

Penghargaan

IPAG60 telah mendapatkan paten yang telah terakreditasi (granted) oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) No. IDP000041590 tahun 2016. Pengolahan air  gambut menjadi air bersih telah memenuhi standar kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010. “IPAG60 juga telah mendapatkan penghargaan dalam kategori “Inovasi Iptek Karya Anak Bangsa Tahun 2013” dari Menteri Riset dan Teknologi. Selain itu Kepala LIPI juga memberikan penghargaan berupa Inventor LIPI 2017,” ungkap Ignasius.

Pengembangan

Ignasius mengungkapkan inovasi teknologi untuk pengembangan IPAG60 pada saat ini “Selain untuk pengolahan air gambut adalah untuk pengolahan air baku marginal menjadi air bersih. Dapat di upgrade atau dikombinasikan/dilengkapi dengan perangkat membrane RO (Reverse Osmosis) maupun UV (Ultra Violet) untuk menghasilkan air minum yang dapat dikonsumsi langsung sebagaimana air minum dalam kemasan.” Membrane RO dan UV merupakan media pengolahan air yang saat ini banyak digunakan pengusaha depo air isi ulang. (IKs ed SL)