Media Visit GPR TV Kominfo, Puslit Limnologi-LIPI

Media GPR TV Kemkominfo pada kunjungan ini terkait  banjir yang melanda Jakarta awal Januari 2020, untuk melakukan wawancara  kepada Drs. Muhammad Fakhrudin, M.Si, Peneliti Puslit Limnologi. Pada kegiatan ini kita dapat melihat langsung Laboratorium Hidroinformatika, yang digunakan untuk melakukan analisis spasial. Pada wawancara GPR TV, Fakhrudin menyatakan, bahwa  situasi banjir awal Januari, disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi, ekstrem dan merata. Sebagai gambaran di,Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur  mencapai 377 milimeter per hari, padahal diatas 150 milimeter sudah dianggap ekstrem. Sehingga kondisi tersebut jauh di atas ekstrem hal ini menjadi   penyebab utama banjir di Jakarta

Cibinong, Humas. Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menerima kunjungan dari media Governance Public Relation (GPR) TV Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI, Rabu (22/1) di  Cibinong Science Center – Botanical Garden.

Media GPR TV Kemkominfo pada kunjungan ini terkait  banjir yang melanda Jakarta awal Januari 2020, untuk melakukan wawancara  kepada Drs. Muhammad Fakhrudin, M.Si, Peneliti Puslit Limnologi. Pada kegiatan ini kita dapat melihat langsung Laboratorium Hidroinformatika, yang digunakan untuk melakukan analisis spasial. Pada wawancara GPR TV, Fakhrudin menyatakan, bahwa  situasi banjir awal Januari, disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi, ekstrem dan merata. Sebagai gambaran di,Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur  mencapai 377 milimeter per hari, padahal diatas 150 milimeter sudah dianggap ekstrem. Sehingga kondisi tersebut jauh di atas ekstrem hal ini menjadi   penyebab utama banjir di Jakarta.

Dirinya menerangkan, saat ini terjadi degradasi lingkungan DAS, fungsi resapan air sangat berkurang karena alih fungsi, hutan dan pertanian menjadi pemukiman, karena kebutuhan pemukiman yang terus meningkat. Fakhrudin menambahkan adanya faktor pasang surut air laut, saat banjir relatif tinggi dibandingkan banjir sebelumnya. Desain drainase yang kita gunakan periode ulang dibawah 50 tahun, artinya sistem drainase sudah tidak mampu, harus direview kembali dari sisi kapasitas dan dari sisi integrasinya.  Drainase lokal dengan drainase makro dari sungai-sungai harus direview lagi secara akurat. Sistem pompa harus ada dan berfungsi dengan baik, kapasitas harus ditingkatkan karena intensitas hujan sudah berubah, dampak perubahan iklim meningkatkan intensitas hujan, jelasnya.

Pengendalian banjir di Jabotabek saat ini seperti apa?
Mengintegrasikan satu sistem sungai di hulu, tengah dan hilir dalam satu perencanaan yang besar,  memastikan fungsi di daerah hulu sebagai resapan, di daerah  hilir menampung air dan sisanya mengalir  di drainase. Menurut Fakhrudin  naturalisasi dan  normalisasi  tidak perlu dipertentangkan karena masing-masing  mempunyai kelebihan dan kekurangan. Naturalisasi sungai, mendekati kondisi alamiahnya, saat ini  kondisi sungai menyempit sehingga  didalamkan dan ditanggul dengan normalisasi

Menurut Fakhrudin, adanya perubahan lahan yang sudah terbangun, bila 80-90% air mengalir yang meningkat tajam masuk ke Jabodetabek, dapat dikendalikan dengan sumur resapan. Perda DKI tahun 2005 tentang sumur resapan, semua pembangunan mendapatkan IMB harus membangun  sumur resapan untuk mendapatkan IMB. Hal ini harus dilakukan secara massal terutama di daerah hulu ke tengah. untuk meresapkan dan menampung air hujan sehingga dapat dipanen saat musim kemarau.”

Fakhrudin menyatakan bahwa sistem peringatan dini yang dimiliki Pusat Penelitian Limnologi LIPI. “salah satunya sistem peringatan dini untuk banijr, dapat ditampilkan  dengan peta rawan banjir. Sistem peringatan dini mengukur water level di sungai dengan sensor yang dapat  disetting.” tutupnya *.(IkS/edKS,yov)